Categories
Parenting

Ma, Om Itu Kok Rambutnya Panjang?

“Mama, kok rambut om itu pan- jang? ‘Kan om laki-laki ya, Ma? Laki-laki rambutnya pendek, dong?” tanya Rio (4) saat melihat seorang laki-laki berambut panjang. Mama Rio bingung bagaimana menjelaskan apa yang ditanyakan putranya. Sementara Syafira (5) sangat suka berambut pendek. Namun, seorang temannya bilang, “Kok, rambutmu pendek kayak anak laki? Anak perempuan, kan rambutnya panjang.” Lain ceritanya dengan Aldi (4,5).

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Akibat berlari terlalu kencang, ia terjatuh, kemudian menangis. Ayahnya berkata, “Sudah Aldi, anak laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng.” Apa yang dialami Rio, Syafira, dan Aldi adalah hal yang terjadi sehari-hari di masyarakat kita. Suka tidak suka, peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita masih mengalami pembedaan yang tegas alias hitam putih. Pembedaan itu pun tak semata dalam hal fisik, tetapi juga psikis. Namun demikian, tak sedikit pihak yang juga menyuarakan kesetaraan gender di berbagai bidang.

Memang perlu dipahami, sejatinya laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara dalam berbagai bidang. Hal yang membedakan laki-laki dan perempuan hanyalah jenis kelamin. Pengenal an gender inilah yang perlu kita sampaikan pada anak. Gender sendiri mengacu pada perasaan internal seseorang akan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Pengenalan gender merupakan sebuah proses dimana anak belajar tentang harapan, sikap, dan perilaku yang diharapkan masyarakat terkait gender seseorang.

Akibat Pengasuhan

Karena anak melihat orangtuanya, otomatis Mama Papa menjadi guru pertama anak dalam banyak hal, termasuk pengenalan gender. Namun, tak dimungkiri bahwa kita sebagai orangtua juga dibesarkan dengan stereotip gender yang begitu kuat. Maka ada banyak hal yang masih menjadi “label” bagi anak kita sendiri. Contohnya, saat memilih perlengkapan bayi, kita cenderung membeli per lengkapan bayi berwarna biru untuk laki-laki dan pink untuk perempuan.

Begitu pun dengan mainan, mobil-mobilan untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan. Sama halnya dengan aktivitas harian dan kepribadiannya. Maka ucapan seperti, “Duh, Kakak ini kok nggak bisa diam ya, se perti anak laki-laki saja lompat-lompatan” atau “Ih, Abang nih cerewet banget kayak anak perempuan”, secara tak langsung berpengaruh pada pemahaman anak tentang laki-laki dan perempuan.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *