Categories
Parenting

Pengaruh Teman Sebaya

Seiring pertambahan usia, keinginan dan kebutuh an anak untuk bermain bersama temannya juga semakin meningkat. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menun jukkan, semakin sering anak laki-laki bermain dengan sesama lakilaki, ia cenderung semakin aktif, dominan, dan agresif. Sama halnya dengan anak perempuan, semakin sering bermain dengan anak perempuan, perilakunya menjadi tipikal anak perempuan.

Baca juga : Tes TOEFL Jakarta

Tugas orangtua adalah mendorong anak bermain tak hanya dengan sesama jenis, tetapi juga lawan jenisnya. Bukan untuk menjadikan anak laki-laki lebih feminin atau anak perempuan lebih tomboi, tetapi agar keterampilan anak berkembang optimal di semua aspek. Anak laki-laki tak hanya lihai memanjat, tetapi juga bisa duduk tenang mende ngarkan dongeng. Anak perempuan tak hanya pintar berbicara, tetapi ia pun bisa jago berlari kencang.

Saling Melengkapi

Hal lain yang perlu kita sampaikan pada anak adalah laki-laki dan perempuan ada untuk sa ling melengkapi, tidak ada yang kedudukannya lebih tinggi atau lebih bagus. Sebagai anak laki-laki, ia harus bisa menghargai peran perempuan, dan sebaliknya. Caranya, dengan menjadi contoh atau panutan bagi anak di rumah.

Seorang papa ternyata bisa juga berbicara lembut tetapi tetap tegas. Papa pun tidak perlu malu-malu lagi turun ke dapur menyiapkan makanan keluarga atau mengurus keperluan anak. Sementara, Mama bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan Papa, seperti memangkas rumput yang mulai panjang, mengganti bola lampu yang putus, atau mencuci mobil.

Dengan melihat bagaimana kita dan pasangan beraktivitas sehari-hari, anak melihat contoh langsung bagaimana papa dan mamanya saling menghargai dan saling melengkapi peran masing-masing. Ia akan terbiasa dengan hal itu dan akan menirukan hal yang sama. Selain itu, kita bisa mencoba cara-cara berikut agar anak terbiasa dengan berbagai peran:

? Perkuat perilaku anak tanpa melabeli perila kunya dengan stereotip gender tertentu. Ubahlah kalimat yang kita sampaikan pada anak, sehingga tak menanamkan secara langsung perilaku tertentu berasosiasi dengan tipikal anak laki-laki maupun perempuan. Daripada mengatakan, “Anak laki-laki tidak boleh menangis” lebih baik berkata, “Aldi boleh menangis kalau sedih atau sedang kesakitan,” sambil memeluk anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *