Categories
Parenting

Siapkah Si Kecil Toilet Training Bag2

Sementara tanda-tanda kesiapan anak secara psikologis antara lain dilihat dari ketertarikannya untuk mencoba duduk pada pispot dan kegiatan ini ia lakukan dengan senang hati. Ketertarikannya tersebut juga berlangsung dalam jangka waktu jelas. Contoh, ketika pertama kalidikenalkan dengan pispot si batita menunjukkan ketertarikan.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Terlebih lagi jika ia kemudian mau mencobanya lagi keesokan harinya serta hari-hari selanjutnya tanpa ada kesulitan yang cukup berarti. Kemajuan sekecil apa pun dari pembelajaran mengenai toilet training yang kita berikan juga merupakan tanda buah hati memang telah siap untuk fase ini. Rata-rata anak mulai bisa dilatih melakukan kontrol setelah usia 18 bulan sampai dengan 2 tahun. “Sebagian besar anak perempuan dapat diberikan toilet training lebih dini dibandingkan anak laki-laki,” lanjut Nurul.

Bagaimana Bila Gagal?

Batita yang menolak untuk BAK/ BAB di kloset/pispot dengan disertai perilaku seperti menangis atau masih BAB di celana serta masih mengompol di malam hari, merupakan hambatan yang kerap kita hadapi saat mengajarkan toilet training. Tetapi hal tersebut bukan petunjuk kegagalan toilet training, lo. Toilet training dianggap kurang berhasil/ gagal ketika pada usia 5 tahun anaktidak mampu mengontrol BAK ataupun BAB. Proses bladder control biasanya sudah sempurna ketika anak berusia 5 tahun sehingga pada usia tersebut diharapkan ia telah mengusai kemampuan mengontrol BAK.

“Secara teori anak sudah mampu mengontrol keinginan BAK di siang hari pada usia 4 tahun. Sedangkan kemampuan mengontrol BAK di malam hari sekitar 80% dan semakin meningkat di usia 5 tahun.” Kegagalan toilet training dapat disebabkan oleh banyak faktor, tak jarang juga berasal dari orangtua sendiri. Kadang kita kurang tepat dalam menentukan kesiapan anak untuk memulai toilet training, misal, atau kurang dapat menjaga konsistensinya. “Karena orangtua merasa tidak tega ketika anaknya rewel saat akan BAB,” kata Nurul memberi contoh.

Lingkungan Kondusif

Saat menjalankan toilet training pada anak dibutuhkan dukungan dari seluruh anggota keluarga. Ini berarti sang pengasuh harus mendukung, begitu pun kakek nenek ketika si batita sedang menginap di rumah mereka. Toilet training bisa terhambat jika anak pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan.

Sumber : https://eduvita.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *