Categories
Berita

Tesaurus Akil Balig Endarmoko Bag6

Namun, pada Tesamoko, tiga kata itu (‘ganjil, aneh, ajaib’) sama sekali tidak menyembul pada deretan kata di bawah lema heran. Mengapa? Karena mereka ”tak punya pertalian makna”. Mari kita kejar apa itu ”pertalian makna”. Atau, secara lebih umum: bagaimana Eko Endarmoko mendefnisikan caranya menghimpun kata berdasarkan ”pertalian makna” atau ”hubungan makna kata yang satu dengan kata yang lain”. Pertanyaan ini membuahkan sederetpertanyaan lebih rinci menyangkut deretan kata di bawah lema heran.

Mengapa bertanya-tanya diletakkan di bawah heran dan bukan di bawah terheran-heran? Mengapa terpukau, tertegun, tercengang tidak di bawah heran, melainkan di bawah terheranheran? Ada sejumlah kata yang dapat disang-kutpautkan dengan heran, tapi tidak tercantum pada Tesamoko: ternganga, (ter)bengong, terkejut, kaget, terperanjat. Dua kata deretan pertama ini dapat dikatakan sebagai ”gambaran fsik” dari orang yang merasa heran.

Tiga kata yang terakhir merupakan ”akibat” dari seseorang yang merasa heran. Bagaimana pula dengan terkesima? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan utaraan penghargaan atas karya besarnya tahun ini. Jawaban terpulang pada bagaimana Eko Endarmoko mendefnisikan ”hubungan makna” itu tadi—bahan pertimbangan bagi pengembangan ke edisi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.