BerryBenka Kerjasama dengan Gudang Movie dalam Pengembangan Website

BerryBenka Kerjasama dengan Gudang Movie dalam Pengembangan Website – A dalah Jessica Mila, Marsha Timothy, dan Raline Shah, tiga bintang yang digandeng BerryBenka un tuk meramaikan koleksi in-house ecommerce fa shion itu. “Kita bikin label BerryBenka sendiri. Ker jasama dengan selebriti difasilitasi tim kreatif Ber- — ryBenka. Kita yang punya designer-nya dan kita pilih artis untuk pilih desain yang mereka banget,” jelas Jason Lamuda, CEO BerryBenka saat ditemui CHIP usai peluncuran. Ketiganya terlibat mulai dari perancangan, pemotongan dan pemilihan bahan, hingga proses penjahitan. BerryBenka sengaja memilih ketiga artis ini karena mereka mewakili tiga generasi berbeda. Gaya Jessica Mila menyasar anak kuliah, Raline Shah yang cocok untuk wanita bekerja dan Marsha Timoty target ibu muda. Tiga tipe pembeli inilah yang rajin menyambangi BerryBenka setiap harinya. Strategi lainnya menyediakan layanan cash-on-delivery (COD) alias bayar di tempat. Untuk ini, Jason mengaku bekerjasama dengan layanan kurir pihak ketiga. Hingga kini, Jason mengklaim layanan model tersebut sudah hadir di 50 kota di Indonesia. Sebagian besar masih ada di Jawa.

Ke depan, ia berencana terus memperbesar wilayah layanan dari fasilitas COD ini. Layanan COD menurut Jason berhasil menyumbang 20% pendapatan situs fashion ini. Sejak awal berdiri, BerryBenka dikenal sebagai situs belanja busana wanita. Kini BerryBenka memperluas pasar dengan meluncurkan koleksi pakaian pria. “Kami lihat pasar pakaian pria juga cukup menjanjikan,” terang pria berkacamata itu lagi. Untuk meningkatkan kenyamanan, BerryBenka juga merilis aplikasi mobile untuk iOS. Versi Android segera menyusul. Menurut Jason aplikasi menjadi salah satu strategi mendongkrak penjualan karena terjadi peningkatan belanja online lewat perangkat mobile. “Dua tahun lalu visitor mobile cuma 25%. Sekarang, perakhir tahun lalu sudah 50%. Transaksinya juga meningkat, dua tahun lalu cuma 20%, sekarang sudah 30%-an. Alasan lain, saat ini orang cenderung menggunakan aplikasi ketimbang datang langsung ke situs lewat mobile web. Beda Industri Setelah merintis Disdus yang diakuisisi oleh Groupon, Jason lantas bergabung dengan BerryBenka. Usaha yang dirintis Claudia, pacar yang sekarang menjadi istrinya. Meski tak menguasai seluk beluk fashion, Jason tak khawatir. Urusan fashion diurus oleh istri, sementara Jason mengurus sisi e-commercenya. “Bareng istri, dia yang tahu fashionnya, pilih barang dan cari pemasok. Saya ngambil dari sisi e-commercenya, marketing dan lainnya,” ucapnya. Berbeda ketika ia berada di Groupon yang banyak mendapat arahan dari kantor pusat, kini Jasonlah yang mesti membuat arahan itu sendiri. “Kita buat direksi sendiri, apa yang bisa kita lakukan 3 bulan ke depan, susun strategi sendiri,” ujarnya. Meski tak mudah, namun tantangan ini yang ia perlukan.

“Meski kita sudah dapat investor tiga kali, tapi ada masa dimana muncul masalah keuangan. Lalu, bagimana cara menemukan investor baru. Kita juga harus memenuhi target. Jika gagal, invest tak bisa didapat,” akunya. Menurutnya tim yang kuat adalah kunci sukses sebuah perusahaan. “Gimana menemukan karyawan yang bagus dan memotivasi agar selalu bertumbuh, itu perlu penanganan tersendiri. ” Selain itu, dengan perusahaan yang makin besar, model pena nganannya juga akan berbeda. “Misalnya karyawan sudah 250 orang, agar perusahaan terus bertumbuh harus dimotivasi. Kalau kecil cuma lima orang gampang manage-nya, apa yang mereka lakukan mudah dimonitor,” ceritanya. Terkait regulasi e-commerce yang sekarang sedang digodok pemerintah, Jason menyambut baik. “Bagus pemerintah mau menggodok, karena yang kita butuhkan adalah transparansi. Regulasi bisa membantu pertumbuhan asal nggak di-limit semua. Pemain (bisa-bisa) ngga bertumbuh, yang penting orang tahu mana boleh, apa enggak.” Berdasarkan pengalamannya, ada beberapa pola berbeda yang ia terapkan. Menurutnya menyiapkan proses yang baik penting dilakukan diawal. “Perlu menyiapkan proses yang benar untuk mencegah ke depannya bermasalah. Kalau ada porses yang baik, akan bertumbuh lebih cepat,” kata Jason. Pengala man juga mengajarkan jika ada masalah dalam proses bisnis, di gudang, atau apapun perlu diluruskan dulu prosesnya.

“Kalau ada masalah jangan cuma ditutup sementara saja biar masalahnya tidak tampak lagi. Ke depan, kalau perusahaan makin bertumbuh, dan ada masalah serupa permasalahannya makin susah untuk diberesin. Bukan hanya saling tutup, tapi memperbaiki fundamentalnya,” katanya bijak. Hal lain yang ia kembangkan di BerryBenka adalah dengan fokus ke pelanggan sejak awal. “Sangat penting kita sebagai penjual bikin happy customer. Karena kalau enggak, konsumen cuma datang sekali dan habis itu enggak balik-baik lagi.” Hal lain yang menurutnya penting adalah menempatkan manajer dalam perusahaan. “Kalau (di Disdus) mungkin kita enggak hire manager, langsung pegawai aja.

Tapi sekarang kita langsung hire manager, sehingga ada yang membantu kita agar proses (tadi) berjalan lebih baik. Manager itu penting untuk sebuah perusahaan yang berkembang. Perusahaan yang berkembang perlu punya proses internal yang baik. Misal, kenapa di gudang perlu ada proses. (Apakah) di QC (quality control) dulu, dan kalau bisa enggak salah masuk rak, karena konsekuensi di belakangnya banyak sekali,” paparnya. Berbicara persaingan dunia e-commerce tanah air yang makin ramai oleh pemain baru dan pemain asing, Jason menanggapi optimis. “Kompetitor sebenarnya membantu. Lebih baik ada kompetitor, sebab kita sama-sama membangun industri ini

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *